Tampilkan postingan dengan label Materi seni rupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi seni rupa. Tampilkan semua postingan

UNIT 6 - PENCIPTAAN DESAIN

UNIT 6 - PENCIPTAAN DESAIN

https://lspblkpadang.org/lowongan-pekerjaan-desain-grafis/

Pokok-Pokok Materi
Konsep Eksplorasi dan Eksperimen dalam Berkarya Desain Di dalam proses desain, hal yang perlu diutamakan adalah agar orang lain di luar si perancang dapat memahami bentuk dan karakter bahan dari apa yang mereka rancang. Guru dapat membuat tema perancangan desain atau membebaskan tema sehingga akan diperoleh hasil karya yang beragam dalam satu kelas.

Tahap eksplorasi desain dapat dimulai dengan mengumpulkan bentuk-bentuk rancangan yang sesuai dengan ide peserta didik dan mengumpulkan semua informasi yang mendukung rancangan ke dalam jurnal visual. Contoh jurnal visual dapat dicari pada laman pencarian dengan kata kunci: moodboard design. Jurnal visual digunakan untuk membuat peserta didik konsisten dengan konsep perancangannya sendiri tanpa merasa rendah diri dengan karya peserta didik lain, juga untuk menunjukkan bahwa setiap karya selalu memiliki rangkaian proses.

Selanjutnya, kegiatan eksperimen untuk merealisasikan bentuk dimulai dengan membuat gambar sketsa menggunakan pensil. Tahap kegiatan akhir eksperimen adalah proses pewarnaan, peserta didik harus memilih alat dan bahan yang tepat untuk membuat gambar rancangan atau desain yang telah mereka buat sketsanya menjadi gambar yang dapat dipahami dengan jelas oleh orang lain. Pada tahap ini, guru dapat mendampingi dengan menggunakan media, alat, dan bahan yang terdapat di sekolah atau yang dimiliki oleh peserta didik. Hasil akhir dari aktivitas unit 6 dapat beragam mulai dari karya manual dengan pensil dan pensil warna atau cat air hingga pengerjaan digital.

Detail Kegiatan Pilihan-Pilihan Aktivitas untuk Membuat Gambar Desain
Kegiatan pembelajaran dalam unit ini mengacu pada perancangan karya desain. Siswa dapat memilih salah satu pilihan aktivitas untuk membuat gambar rancangan desain yang telah disediakan, kemudian mengolahnya menjadi pembelajaran yang mandiri dan kreatif.

1 Menyusun Agenda/Jadwal Aktivitas Proyek
Merupakan tahapan perkenalan antara peserta didik dengan materi eksplorasi dan eksperimen. Pada pertemuan ini, peserta didik mendapat penjelasan alat dan bahan yang akan digunakan sesuai dengan aktivitas yang dipilih. Di awali proses perancangan dengan memberikan ide berupa masalah yang berkaitan dengan isu sosial maupun lingkungan. Kemudian peserta didik memecahkan masalah tersebut dengan menggunakan pendekatan seni visual dengan membuat gambar perancangan desain.

Contoh masalah: Pabrik saus sambal “PEDASUKA” ingin mengampanyekan isu peduli lingkungan kepada masyarakat. Menurut kalian, bagaimanakah desain baru kemasan saus sambal “PEDASUKA” agar tampak memiliki unsur “kepedulian lingkungan” ?

2 Monitoring Jalannya Proyek Penciptaan Karya Desain
Peserta didik mulai melakukan proses penciptaan desain dan melakukan eksperimen alat dan bahan yang tepat sesuai dengan rancangan yang telah dibuat pada pertemuan pertama hingga tahap penyelesaian karya.

3 Penilaian Hasil Produk dan Evaluasi Proses
Peserta didik melakukan evaluasi terhadap hasil karyanya dan dapat menanyakan kepada guru bagian mana yang perlu pengerjaan lebih lanjut.

4 Merancang Desain Teknis
Pada dasarnya, menggambar rancangan desain yang dilakukan secara teknis berpedoman kuat pada pengetahuan hukum perspektif. Jika guru memilih kegiatan ini sebagai fokus pembelajaran seni rupa, maka guru dapat memilih kegiatan pembelajaran merancang desain dengan cara menggambar perspektif yang telah dikuasai guru. Salah satu cara menggambar rancangan desain yang paling banyak digunakan untuk peserta didik di tingkat SMA adalah teknik perspektif dua titik, dengan tujuan perancangan yang lebih terstruktur dan memiliki konsep penyelesaian masalah sebagai landasan dibuatnya rancangan.

UNIT 5 - Dasar dan Fungsi Desain Dalam Kehidupan Sehari-Hari

UNIT 5 - Dasar dan Fungsi Desain Dalam Kehidupan Sehari-Hari



Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan, mengelompokkan dan menganalisis manfaat desain dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mengenal desainer-desainer Indonesia dan karyanya.
3. Menganalisis perkembangan desain berdasarkan jenis, konsep, dan latar belakang terciptanya desain.
4. Merancang dan membuat infografis.

TEKNIK WARNA BERLAPIS MENGGUNAKAN CAT

 

  • Langkah pertama yang dilakukan adalah kita siapkan gambar yang mau diwarna.
  • Kemudian buat satu warna paling muda/tipis, kemudian warnakan pada bidang, dan tunggu sampai kering.

  • Buat satu warna lagi dengan intensitas lebih tua/tebal sedikit dari warna yang pertama, kemudian sapuhkan pada bidang. Sisakan sedikit agar warna pertama masih terlihat, lalu tunggu kering lagi

  • Buat warna lagi dengan intensitas lebih tua/tebal dari warna sebelumnya, dan sapuhkan pada lapis berikutnya.

  • Lanjutkan seterusnya berulang ulang, sampai lapis warna paling tebal.

  • Bisa juga menggunakan lebih dari 1 warna, sehingga lebih bisa bervariasi.

  • CATATAN PENTING : PERHATIKAN ILMU TENTANG LINGKARAN WARNA




GAMBAR DEKORATIF & LUKISAN MOTIF BATIK

 


GAMBAR DEKORATIF

Gambar dekoratif adalah representasi visual yang dibuat dengan tujuan untuk mempercantik atau meningkatkan estetika suatu objek, ruang, atau karya seni, tanpa harus menyampaikan informasi khusus atau memiliki fungsi praktis tertentu. Gambar ini dirancang untuk memberikan elemen keindahan visual dan dapat muncul dalam berbagai bentuk dan media, seperti lukisan, cetakan, foto, atau seni digital.

 

Berbeda dengan gambar yang memiliki tujuan komunikatif atau informatif, gambar dekoratif cenderung fokus pada aspek estetika dan keindahan. Mereka sering digunakan dalam konteks desain interior, seni rupa, dan dekorasi untuk menciptakan atmosfer yang menyenangkan atau menarik di suatu tempat.

 

Karakteristik gambar dekoratif dapat mencakup berbagai elemen artistik, seperti warna-warna yang harmonis, bentuk-bentuk estetis, dan komposisi visual yang menarik. Seringkali, gambar dekoratif juga mencerminkan gaya atau tema tertentu yang sesuai dengan keinginan desainer atau pemilik ruang.

 

Penting untuk dicatat bahwa meskipun gambar dekoratif mungkin tidak memiliki pesan spesifik atau informasi yang disampaikan, keberadaan dan penempatannya dapat memiliki dampak signifikan pada suasana dan mood suatu tempat. Gambar dekoratif dapat digunakan untuk menciptakan atmosfer yang nyaman, menginspirasi kreativitas, atau sekadar menambahkan sentuhan visual yang menyenangkan.

Top of Form

 

 


LUKISAN MOTIF BATIK

Lukisan motif batik merujuk pada karya seni lukisan yang terinspirasi oleh desain dan motif tradisional batik. Motif batik telah menjadi sumber inspirasi yang kaya bagi seniman dan pelukis untuk menciptakan karya-karya yang menggabungkan keindahan desain tradisional dengan medium lukisan. Berikut adalah penjelasan lebih detail tentang lukisan motif batik:

  1. Motif dan Desain:
    • Lukisan motif batik mencakup berbagai desain dan motif yang biasanya terkait dengan warisan budaya batik.
    • Motif tersebut dapat melibatkan pola geometris, flora, fauna, atau simbol-simbol tradisional yang memiliki makna dalam konteks budaya.
  2. Medium dan Teknik Lukisan:
    • Cat Akrilik, Cat Air atau Cat Poster: Seniman menggunakan berbagai media lukisan, seperti cat minyak, akrilik, atau cat air, untuk menciptakan lukisan motif batik.
    • Teknik Layering: Seperti pada batik asli, seniman sering menggunakan teknik layering dalam lukisan untuk menciptakan efek dimensi dan kedalaman.
  3. Warna Tradisional Batik:
    • Lukisan motif batik cenderung menggunakan palet warna tradisional yang sering terlihat dalam batik asli, termasuk warna-warna alam seperti biru, cokelat, hijau, dan merah.
  4. Detail dan Kekerapan Motif:
    • Seniman dapat memilih untuk mempertahankan detail dan kekerapan motif batik yang khas atau mengembangkan variasi baru berdasarkan elemen-elemen tradisional tersebut.
  5. Inspirasi Lokal dan Budaya:
    • Lukisan motif batik sering kali mencerminkan inspirasi lokal dan budaya dari daerah tertentu. Setiap daerah mungkin memiliki gaya dan motif batik yang khas.
  6. Penyesuaian dengan Gaya Kontemporer:
    • Beberapa seniman memadukan motif batik dengan elemen-elemen kontemporer atau gaya seni modern untuk menciptakan karya yang lebih inovatif dan unik.
  7. Penciptaan Karya Seni Kontemporer:
    • Lukisan motif batik dapat mencakup berbagai karya seni kontemporer, termasuk lukisan di atas kanvas, panel kayu, atau medium lainnya.
  8. Fungsi dan Penggunaan:
    • Karya seni ini dapat digunakan sebagai dekorasi interior, dijual sebagai barang seni, atau dipamerkan dalam galeri seni.
    • Beberapa seniman mungkin juga menciptakan lukisan motif batik untuk merespons atau menghormati tradisi batik dan memberikan sudut pandang baru terhadap seni tradisional tersebut.

Lukisan motif batik memberikan peluang bagi seniman untuk mengekspresikan kreativitas mereka sambil mempertahankan nilai-nilai dan keindahan tradisional batik. Karya-karya ini dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap seni dan warisan budaya serta meramaikan dunia seni rupa kontemporer.

Top of Form

 

Contoh lukisan motif batik mungkin mencakup:

  1. Motif Geometris:
    • Lukisan mungkin menampilkan pola geometris seperti kotak-kotak, garis-garis, atau segi enam yang umumnya terdapat dalam batik tradisional.
  2. Motif Flora dan Fauna:
    • Lukisan dapat menggambarkan motif batik yang terinspirasi dari alam, seperti bunga-bunga, daun, atau hewan yang sering muncul dalam desain batik.
  3. Motif Simbolik:
    • Beberapa seniman mungkin menciptakan lukisan yang mengandung simbol-simbol tradisional atau makna khusus yang sering ditemukan dalam batik.
  4. Penggunaan Warna Tradisional:
    • Palet warna tradisional batik, seperti biru, cokelat, hijau, merah, dan kuning, mungkin dominan dalam lukisan.
  5. Teknik Layering:
    • Lukisan motif batik bisa mencerminkan teknik layering, di mana warna dan detail motif diterapkan secara bertahap untuk menciptakan efek dimensi.
  6. Adaptasi Kontemporer:
    • Beberapa seniman mungkin mengadaptasi motif batik ke dalam gaya lukisan kontemporer dengan menambahkan elemen modern atau memvariasikan motif tradisional untuk menciptakan kesan yang segar.

KALIGRAFI dan LETTERING



 

KALIGRAFI 

Kaligrafi itu seni menulis atau menggambar huruf, tapi nggak sekadar soal tulisan biasa. Kata “kaligrafi” sendiri asalnya dari bahasa Yunani—“kallos” yang berarti indah, dan “grapho” yang artinya menulis. Jadi jelas, sejak awal udah ada unsur seni di sana. Dalam praktiknya, kaligrafi main-mainin berbagai bentuk dan gaya huruf, supaya hasilnya nggak cuma bisa dibaca, tapi juga enak banget dipandang.

 

Dari zaman dulu, kaligrafi punya peran penting di banyak budaya. Awalnya dipakai buat nulis teks agama—misalnya ayat Al-Qur’an dalam Islam, atau kitab suci di tradisi Kristen. Tapi makin ke sini, kaligrafi berkembang jadi seni yang berdiri sendiri. Sekarang, bukan cuma buat nulis ayat suci, tapi juga jadi dekorasi, bahkan inspirasi logo modern.

 

Seniman kaligrafi punya banyak alat andalan. Ada pena khusus, kuas, sampai alat digital kayak komputer. Soal gaya, kaligrafi Arab misalnya, punya Kufi, Naskhi, dan Thuluth. Di kaligrafi Latin, ada Uncial, Italic, sampai Gothic—masing-masing punya ciri khas sendiri.

 

Yang menarik, kaligrafi nggak cuma soal cantiknya huruf. Ada harmoni, proporsi, keseimbangan—semua harus pas. Sedikit aja salah garis atau posisi, hasil akhirnya bisa langsung kelihatan aneh. Di balik keindahannya, kaligrafi juga punya nilai spiritual dan butuh teknik yang nggak main-main.

 

Kaligrafi Arab biasanya dipakai buat menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Gaya-gayanya mulai dari Naskh, Thuluth, sampai Kufi. Sedangkan kaligrafi Latin, pakai abjad Latin dan punya gaya seperti Uncial, Italic, Gothic, atau Copperplate.

 

Alatnya juga beragam. Pena kaligrafi biasanya punya ujung yang bisa diganti-ganti, supaya bisa bikin garis dengan lebar berbeda. Ada juga kuas buat nulis pakai tinta atau cat air. Tintanya pun khusus, biar alirannya mulus dan hasilnya maksimal.

 

Untuk teknik, ada Tughra—gaya khas Kekaisaran Ottoman buat tanda tangan dokumen resmi. Ada juga Diwani, gayanya rumit dan artistik, biasanya dipakai untuk surat resmi atau dokumen hukum. Kadang, karya kaligrafi makin mewah dengan illumination—ornamen dan ilustrasi yang menghiasi huruf.

 

Kaligrafi punya sejarah panjang. Dari tulisan tangan di naskah kuno, sekarang jadi seni yang dihargai di mana-mana. Nggak cuma soal estetika, tapi juga media mengekspresikan nilai spiritual, terutama di tulisan agama.

 

Sekarang, kaligrafi nggak cuma dikerjain manual. Banyak seniman pakai software desain grafis buat bikin karya digital. Banyak juga yang suka ngolah tradisi lama dengan sentuhan teknologi baru. Intinya, kaligrafi itu seni yang unik, kompleks, selalu berkembang, dan nggak pernah ngebosenin.

 

LETTERING

Lettering itu seni bikin huruf pakai tangan, biasanya buat hiasan atau bikin desain yang unik. Beda sama kaligrafi yang lebih soal teknik nulis, lettering lebih main di desain hurufnya—ngatur bentuk, gaya, sama nuansa tiap huruf biar jadi satu karya yang punya karakter. Di sini, seniman bebas banget mau bereksperimen. Hurufnya bisa macem-macem, nggak harus seragam, bahkan kadang sengaja dibuat beda-beda biar lebih hidup.

 

Biasanya, lettering sering muncul di poster, spanduk, logo, tanda, sampai mural di tembok-tembok kota. Karena nggak ada aturan kaku, seniman bisa bebas mainin ukuran, warna, nambahin efek bayangan, garis tepi, atau elemen dekoratif lain. Pokoknya, semua sah aja selama hasilnya menarik.

 

Buat alatnya, nggak terbatas. Ada yang suka pakai pena, kuas, spidol, atau mulai dari pensil dulu buat bikin sketsa. Banyak juga yang sekarang langsung digital, pakai tablet atau aplikasi desain. Jadi, siapa aja bisa coba—mau yang suka cara tradisional atau yang lebih demen digital.

 

Di dunia kreatif, lettering dipakai buat banyak hal: bikin identitas merek, desain kemasan, sampai elemen visual biar produk gampang dikenali. Lettering bukan cuma soal bikin huruf, tapi gimana caranya huruf itu bisa ngasih pesan visual yang kuat dan gampang diingat.

 

Intinya, lettering itu seni merancang huruf dengan tangan—bukan cuma biar kelihatan cantik, tapi juga punya jiwa. Gaya-gayanya banyak banget. Misalnya:

 

1. Gaya Lettering:

-          Serif: Huruf ada “ekor” atau ornamen di ujung. Kesan klasik, agak formal.

-          Sans-serif: Tanpa ornamen, jadi kelihatan simpel dan modern.

-          Script: Huruf mirip tulisan tangan. Biasanya lebih bebas, kadang elegan.

-          Display: Gaya yang sengaja dibikin menonjol, cocok buat judul atau logo.

 

2. Teknik dan Alat:

-          Pena & Kuas: Buat garis yang tebal-tipisnya beda, hasilnya bisa dramatis banget.

-          Spidol: Enak buat permukaan besar atau buat hasil yang tegas.

-          Pensil: Biasanya jadi alat pertama buat sketsa sebelum diwarnai atau ditebalkan.

 

3. Komposisi dan Desain:

-          Kerning: Ngatur jarak antar huruf biar rapi dan enak dilihat.

-          Tracking: Spasi antar huruf dalam satu kata atau kalimat.

-          Leading: Jarak antar baris, biar tulisan nggak dempet-dempetan.

 

4. Warna dan Dekorasi:

-          Warna: Bikin huruf kelihatan hidup, nggak ngebosenin.

-          Efek bayangan & highlight: Bikin huruf kelihatan timbul dan punya kedalaman.

 

5. Penggunaan Lettering:

-          Desain Grafis: Dipakai di poster, kartu ucapan, branding, dan banyak lagi.

-          Street Art: Sering muncul di mural atau graffiti, bagian ekspresi seni di ruang publik.

-          Logo: Banyak logo keren yang idenya dari lettering unik.

 

6. Lettering Digital:

-          Aplikasi Desain: Sekarang gampang banget bikin lettering digital, tinggal pilih aplikasi yang cocok.

-          Tablet Grafis: Pakai stylus, hasilnya bisa presisi, tetap dapat feel manual tapi lebih fleksibel.

 

Yang seru dari lettering, tiap karya punya kepribadian sendiri, sesuai pembuatnya. Kadang justru gara-gara ada bentuk yang nggak sempurna, hasilnya malah makin punya daya tarik. Jadi, nggak usah takut salah—justru di situ letak seninya.

 

PERBEDAAN KALIGRAFI DAN LETTERING

Kaligrafi dan lettering memang sama-sama soal huruf, tapi sebenarnya beda banget dari tujuan, teknik, sampai fokusnya. Nih, biar nggak bingung, aku jelasin satu per satu:

 

1. Fokus Utama:

-          Kaligrafi itu intinya seni menulis huruf yang indah. Setiap goresan harus rapi, garisnya halus, dan bentuk hurufnya seimbang banget.

-          Lettering beda lagi. Fokusnya desain huruf yang kreatif dan dekoratif. Nggak ada aturan wajib soal teknik menulis formal, jadi bisa bebas banget bereksperimen.

 

2. Tujuan Penggunaan:

-          Kaligrafi biasanya dipakai buat hal-hal yang sakral atau penting, kayak teks agama, naskah kuno, atau hiasan dinding yang klasik.

-          Kalau lettering, lebih sering muncul di dunia desain. Contohnya di poster, logo, kartu ucapan, sampai branding produk.

 

3. Teknik dan Alat:

-          Kaligrafi umumnya pakai alat khusus, kayak pena atau kuas khusus plus tinta tertentu, jadi hasilnya khas banget.

-          Lettering jauh lebih fleksibel. Mau pakai pena, spidol, kuas, atau langsung digital di tablet juga bisa.

 

4. Ketelitian Teknik:

-          Di kaligrafi, ketelitian itu wajib. Ada aturannya sendiri, apalagi kalau masih pakai gaya tradisional.

-          Sementara lettering, senimannya bisa bebas berekspresi. Nggak ada aturan mati, jadi tiap orang bisa punya gaya unik.

 

5. Fleksibilitas Kreatif:

-          Kaligrafi memang punya batasan tertentu karena harus ngikutin aturan dan gaya, meski tetap bisa eksplorasi ornamen kecil.

-          Lettering jauh lebih bebas. Gaya, warna, sampai elemen dekoratif lainnya bisa dieksplorasi semau hati.

 

6. Penerapan Digital:

-          Dulu kaligrafi cuma manual, tapi sekarang udah bisa digital juga pakai software desain.

-          Lettering malah lebih gampang dibawa ke dunia digital. Banyak banget seniman lettering yang sekarang mainnya di tablet atau komputer.

 

Jadi intinya, lettering itu soal kebebasan berekspresi pakai huruf, sedangkan kaligrafi lebih ke seni menulis yang presisi dan penuh teknik. Dua-duanya punya daya tarik sendiri dan bikin dunia seni huruf makin seru.

 

oleh : BAHARFIAN NOVRIANTO

 


SENI RUPA 2 DIMENSI

 


Karya seni rupa ada di sekitar kita. Seringkali kita tidak menyadari bahwa benda-benda yang dekat dengan aktivitas kita sehari-hari adalah karya seni rupa. Karya seni rupa ini ada yang berdimensi dua dan berdimensi tiga. Tahukah kamu apa artinya dimensi dalam karya seni rupa? Karya seni rupa dua atau tiga dimensi dibedakan dari bagian karya yang dicerap oleh mata. Pada bagian inilah kamu akan melihat bentuk objek yang terdapat didalamnya.

Cobalah amati benda di sekitar kamu, maka kamu akan dapat membedakan benda yang berdimensi dua atau berdimensi tiga. Tunjukkan mana benda atau karya seni rupa yang berdimensi dua. Karya seni rupa dua dimensi (2D) ada yang memiliki fungsi pakai dan ada yang memiliki fungsi hias atau fungsi ekspresi saja.

Ada berbagai aspek dalam karya seni rupa dua dimensi. Berbagai unsur rupa seperti garis, bentuk, bidang, warna disusun sedemikian rupa sehingga membentuk objek tertentu pada karya seni rupa dua dimensi tersebut. Untuk mewujudkan karya seni rupa dua dimensi ini digunakan berbagai bahan, medium dan teknik sesuai dengan objek dan fungsi yang diinginkan.

 

SENI RUPA DUA DIMENSI

Istilah “Seni Rupa” seringkali kamu jumpai baik dalam bentuk tulisan maupun diperbincangkan secara lisan. Tahukah kamu apa sebenarnya Seni Rupa itu? Cobalah diskusikan dengan temanmu di kelas tentang pengertian dari kata “seni rupa”. Perhatikan kembali benda-benda di sekitar kamu, tunjukkan benda apa saja yang termasuk karya seni rupa?

Berbagai karya seni rupa di sekeliling kita, memiliki banyak macam ragamnya. Walaupun demikian, karya seni rupa dapat digolongkan berdasarkan jenisnya dengan mengkategorikan kesamaan karakteristik karya yang satu dengan yang lainnya. Dapatkah kamu membedakan karakteristik dasar karya seni rupa yang satu dengan yang lainnya? Pada binatang, misalnya penggolongan dapat didasarkan pada jenis kelamin, ada jantan ada betina. Pada tumbuhan, misalnya dapat dikategorikan berdasarkan fungsinya. Ada tumbuhan yang ditanam sebagai hiasan untuk memperindah taman ada juga tumbuhan yang ditanam untuk dikonsumsi. Demikian juga dalam hal karya seni rupa, secara sederhana, kamu dapat membedakan berdasarkan bentuk (dimensi) maupun fungsinya.

Berdasarkan dimensinya, karya seni rupa dibagi dua yaitu, karya seni rupa dua dimensi yang mempunyai dua ukuran dan karya seni rupa tiga dimensi yang mempunyai tiga ukuran atau memiliki ruang. Tahukah kamu ukuran yang dimaksud dalam karya seni rupa dua dan tiga dimensi? Berdasarkan fungsinya, karya seni rupa ada yang dibuat dengan pertimbangan utama untuk memenuhi fungsi praktis. Karya seni rupa semacam ini dikategorikan dalam jenis karya seni rupa terapan (applied art). Pembuatan karya seni (rupa) terapan ini umumnya melalui proses perancangan (desain). Pertimbangan aspek-aspek kerupaan dalam karya seni terapan berfungsi untuk memperindah bentuk dan tampilan sebuah benda serta meningkatkan

kenyamanan penggunaanya. Tahukah kamu benda-benda apa saja yang ada di sekitar kamu yang dikategorikan sebagai karya seni rupa terapan? Sebaliknya ada karya seni rupa yang dibuat dengan tujuan untuk dinikmati keindahan dan keunikannya saja tanpa mempertimbangkan fungsi praktisnya. Karya seni rupa dengan kategori ini disebut karya seni rupa murni yang umumnya digunakan sebagai elemen estetis untuk ”memperindah” ruangan atau tempat tertentu.

Selain berdasarkan bentuk (dimensi) dan fungsinya, karya seni rupa juga digolongkan berdasarkan karakteristik media (alat, teknik, dan bahan) serta orientasi pembuatannya. Berdasarkan karakteristik tersebut kita mengenal berbagai jenis karya seni rupa seperti seni lukis, seni patung, seni grafis, seni kriya, dan desain.

 

Seni rupa 2 dimensi adalah karya seni rupa yang hanya memiliki dua ukuran atau sisi, mudahnya karya ini hanya memiliki panjang dan lebar saja, tanpa dimensi ketiga yaitu: ruang (z). Contohnya adalah lukisan, seni grafis, ilustrasi dan karya rupa lain yang digambar diatas permukaan datar.

Istilah ini muncul ketika seni rupa dibedakan berdasarkan dimensinya, yaitu karya seni rupa dua dimensi dan seni rupa 3 dimensi. Penggolongan seperti ini dilakukan agar kita memahami seberapa jauh cakupan seni rupa dapat dibedakan.

Misalnya, seni rupa juga dapat dibedakan berdasarkan fungsinya. Yaitu, seni rupa terapan (applied art) yang pembuatannya melalui proses perancangan (desain), dan seni rupa murni, karya yang dibuat dengan tujuan untuk dinikmati keindahan dan keunikannya saja tanpa mempertimbangkan fungsi praktisnya.

Selain berdasarkan bentuk (dimensi) dan fungsinya, karya seni rupa juga dapat dibedakan berdasarkan karakteristik media (alat, teknik, dan bahan) dan orientasi pembuatannya. Berdasarkan karakteristik tersebut, seni rupa terbagi menjadi: seni lukis, seni grafis, seni patung, seni kriya, dan desain.

Ketika kita mengetahui setiap jenis seni rupa berdasarkan parameter fungsinya, maka akan jauh lebih mudah bagi kita untuk mengapresiasi atau menciptakan karya spesifik yang inign kita pelajari. Karena setiap jenis karya seni rupa yang berbeda akan membutuhkan treatment yang berbeda pula.

 

Jika berbicara terdapat karya yang memiliki dimensi lebih dari karya dua dimensi, maka akan muncul pertanyaan dan pernyataan bahwa seni rupa tiga dimensi adalah sesuatu yang lebih baik atau muktahir. Seperti bagaimana video game bergrafik 3d akan otomatis disebut lebih bagus daripada game kartun 2d.

Namun, seni ini tetap bertahan dan masih terus digunakan dengan alasan yang sangat rasional. Karena kurangnya dimensi pada seni rupa 2 dimensi justru memancing imajinasi lebih dari audiensnya. Gambar yang hanya dapat dilihat pada permukaan datar lebih mudah untuk menciptakan berbagai narasi dan teks diluar wujud fisiknya sendiri. Fokus pemirsa secara simultan akan mengapresiasi wujud fisik dan wujud batin dari karya 2d.

Dengan cepat, gambar dua dimensi dapat memancarkan berbagai pesan atau narasi yang akan membuat pemirsa gatal untuk menafsirkannya. Hal ini berbeda dengan  seni rupa 3 dimensi yang karena memiliki dimensi yang sama dengan dunia nyata. Karena wujudnya yang terlalu sama dengan alam, justru malah menimbulkan pengabaian atau kesulitan untuk mengapresiasi wujud batin. Ini sebabnya mengapa masyarakat umum lebih mudah untuk menikmati dan memahami lukisan ketimbang seni instalasi.

 

UNSUR FISIK SENI RUPA 2 DIMENSI

1.      TITIK. Unsur terkecil dan awal dari sebuah karya, koordinat tanpa dimensi atau area. Sebenarnya titik digunakan untuk menciptakan unsur yang lain, karena itu terkadang beberapa ahli lain tidak memasukan titik sebagai unsur seni rupa. Menurut Sadjiman Ebdi Sanyoto (2009: 94), “secara umum dimengerti bahwa suatu bentuk disebut sebagai titik karena ukurannya yang kecil, dikatakan kecil karena obyek tersebut berada pada area yang luas dan manakala dengan obyek yang sama dapat dikatakan besar apabila diletakan pada area yang sempit.” Pendapat tersebut membahas dengan apik tentang relativitas ukuran. Titik dapat menjadi lingkaran pada area sempit bahkan menjadi tekstur saat dibuat kecil, banyak dan memenuhi area yang besar dengan pengulangan dan ritma.

2.   GARIS (LINE). Garis adalah unsur fisik yang mendasar dan penting untuk menciptakan karya seni rupa. Garis memiliki dimensi datar memanjang, arah dan sifat-sifat khusus seperti: pendek, panjang, vertikal, horizontal, lurus, melengkung, berombak, dst.

3.   RAUT (BIDANG DAN BENTUK). Raut merupakan tampak, potongan atau wujud dari suatu objek. Istilah ”bidang” digunakan untuk menunjuk wujud benda yang datar, sedangkan bangun /bentuk menunjukkan wujud benda yang tampak memiliki volume (mass), meskipun pada seni rupa 2 dimensi, volume tersebut hanya ilusi.

4.      RUANG. Ruang dalam karya seni rupa 2 dimensi berarti kesan dimensi dari objek atau background yang terdapat pada karya seni. Ruang dihadirkan melalui perbedaan intensitas gelap-terang, warna, hingga menggunakan teknik menggambar perspektif untuk menciptakan ruang semu (khayal).

5.      TEKSTUR (BARIK). Unsur rupa yang menunjukan kualitas taktil dari suatu permukaan atau penggambaran struktur permukaan suatu objek pada karya seni rupa. Terdapat tekstur semu (buatan) dan tekstur asli. Tekstur asli adalah perbedaan ketinggian permukaan objek yang nyata dan dapat diraba (seperti cat timbul). Sementara tekstur semu/buatan adalah kesan semu permukaan objek yang direka melalui pengolahan unsur garis, gelap-terang, dsb.

6.      GELAP-TERANG. Gerap terang adalah rekaan perbedaan intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan benda yang digambar/dilukis pada karya seni rupa 2dimensi. Bagian yang terkena cahaya harus dibuat lebih terang dan bagian yang kurang terkena cahaya akan harus tampak lebih gelap.

7.      WARNA. Warna adalah unsur rupa yang paling menarik perhatian. Menurut teori warna Brewster, semua warna yang ada berasal dari tiga warna pokok (primer) yaitu merah, kuning, dan biru. Dalam berkarya seni rupa terdapat beberapa teknik penggunaan warna, yaitu secara harmonis, heraldis, murni, monokromatik dan polikromatik.

 

MEDIUM DAN BAHAN KARYA SENI RUPA 2 DIMENSI

Bahan berkarya seni rupa adalah material habis pakai yang digunakan untuk mewujudkan karya seni rupa tersebut. Sesuai dengan keragaman jenis karya seni rupa, bahan untuk berkarya seni rupa ini juga banyak macam dan ragamnya, ada yang berfungsi sebagai bahan utama (medium) dan ada pula sebagai bahan penunjang.

Bahan karya seni rupa adalah material pakai yang dapat habis ketika digunakan untuk menciptakan karya seni. Seperti jenisnya yang beragam, bahan untuk berkarya seni juga sangat beranekaragam. Ada yang berfungsi sebagai bahan utama atau disebut medium, ada juga bahan yang menunjang.

Contohnya, karya seni lukis dibuat menggunakan kanvas dan cat sebagai bahan utama, kemudian kayu dan paku sebagai bahan penunjang. Kayu digunakan sebagai bahan bingkai pembentang kanvas dan biasa disebut dengan spanram (stretch board)

Berdasarkan sumber bahan dan proses pengolahannya, bahan untuk berkarya seni rupa 2 dimensi juga dapat dikategorikan menjadi bahan alami dan bahan sintetis. Bahan baku alami adalah material yang bahan dasarnya berasal dari alam dan diolah tanpa proses kimiawi. Sementara bahan sintetis adalah bahan-bahan alam yang telah diolah melalui proses industri atau pabriksasi tertentu, sehingga menjadi bahan baru yang memiliki sifat dan karakter khusus yang baru pula.

Berdasarkan sifat materialnya, bahan berkarya seni rupa ini dapat juga dikategorikan ke dalam bahan lunak, keras, bahan cair dan padat, dan sebagainya.

 

ALAT BERKARYA SENI RUPA DUA DIMENSI

Alat berkarya seni rupa sangat banyak jenis dan ragamnya. Ketika berkarya seni rupa 2 dimensi dikenal beberapa kategori alat utama, yaitu alat untuk menggambar, membentuk, dan mewarnai, h alat mencetak (melipatgandakan).

Seperti pada medium, dalam berkarya juga terdapat alat tidak secara khusus digunakan untuk kegiatan seni rupa, namun sangat diperlukan dalam kegiatan berkarya seni rupa seperti: alat pemotong (gunting atau pisau), alat pengukur, dan sebagainya.

Alat-alat tersebut bersifat penunjang untuk mempermudah proses pembuatan karya. Kemajuan teknologi juga saat ini membuat berkarya seni rupa dapat diasistensi atau dilakukan dengan menggunakan komputer.

Meskipun begitu, harus selalu disadari betul bahwa komputer hanyalah alat bantu. Karya seni ataupun desain yang identik dengan teknologi digital tetap membutuhkan kepekaan rasa yang sulit bahkan hampir tidak mungkin dapat diciptakan oleh program komputer.

Kepekaan rasa seni atau sense of art adalah kompetensi unik dan khas yang hanya dimilki oleh manusia. Setiap manusia biasanya memiliki gaya dan ciri khas yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, dan inilah yang membuat seseorang dapat menjadi seorang seniman.

 

TEKNIK BERKARYA SENI RUPA DUA DIMENSI

Berkarya seni rupa 2 dimensi membutuhkan keterampilan teknis menggunakan alat dan mengolah bahan untuk mewujudkan karya yang garap. Sebagai contoh, untuk menciptakan karya lukisan, seorang perupa harus menguasai keterampilan teknis menggunakan  kuas dan mencampur cat (mengolah bahan) pada kanvas (medium). 

Beberapa teknik karya seni rupa juga dapat sangat spesifik terhadap satu bidang saja. Seni kriya Batik misalnya, membutuhkan teknik khas dan unik untuk membatik. Suatu teknik berkarya seni rupa 2 dimensi mungkin saja secara khusus digunakan sebagai teknik utama dalam mewujudkan satu jenis karya seni rupa tetapi mungkin juga digunakan untuk mewujudkan jenis karya seni rupa lainnya.

Artinya, teknik adalah salah satu hal yang dapat dieksplorasi untuk menghasilkan karya yang unik. Misalnya, bagaimana jika kita menggunakan canting batik untuk melukis diatas kanvas? Coba saja, kreativitas itu tidak ada batasnya.

 

PROSES BERKARYA SENI RUPA 2 DIMENSI

Pembuatan karya seni 2 dua dimensi dilakukan melalui sebuah proses yang bertahap. Tahapan ini akan berbeda antara satu jenis karya dengan jenis karya lainnya mengikuti karakteristik teknik, bahan dan alat yang sebelumnya telah dibahas.

Namun, secara umum berkarya seni rupa 2 dimensi akan dimulai karena adanya motivasi untuk berkarya. Motivasi tersebut dapat berasal dari dalam diri maupun dari luar senimannya. Jika kita melihat pada sejarah-sejarah atau cerita masa lalu, terkadang motivasi seniman untuk berkarya bisa menjadi sangat dramatis. Seakan motivasi seni harus berasal dari suatu tragedi atau kisah kelam senimannya. Padahal, nyatanya sesuatu yang sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari dapat menjadi ide atau motivasi untuk berkarya. Cobalah perhatikan dan amati benda-benda atau peristiwa sehari-hari di sekitar kita. Kemudian, kembangkan hasil pengamatan tersebut menjadi tema utama berkarya.

Jika analisis dilakukan dengan cermat dan tepat, maka ide dan motivasi berkarya pasti dapat terbentuk. Misalnya, ada Seniman yang terkenal karena melukis menggunakan benang dan jarum jahit. Bahkan ada yang menggambar menggunakan rontokan rambutnya sendiri ketika ia sedang mandi, dengan cara menempelkan rambut-rambut tersebut dinding keramik kamar mandinya.

 

REFERENSI

1.                Hardjana Suka. (1995). Manajemen Kesenian dan Para Pelakunya: Yogyakarta, MSPI.

2.                Sedyawati, Edi dkk. (1983). Seni dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: Gramedia.

3.                Zackaria Soetedja, dkk. (2017). Seni Budaya untuk SMA/SMK/MAK kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

DIMENSI, UNSUR dan PRINSIP SENI RUPA



JENIS-JENIS DIMENSI ; Berikut terdapat beberapa jenis-jenis dimensi adalah:

1. DIMENSI SATU

Dimensi satu adalah dimensi yang hanya memiliki satu unsur dimensi saja, yakni panjang. Benda-benda dimensi bisa bergeak dengan bebas ke arah kanan dan ke arah kiri. Contohnya adalah garis.

2. DIMENSI DUA

Dimensi dua adalah dimensi yang memiliki dua unsur dimensi, yakni unsur panjang dan lebar. Benda-benda dimensi dua ini bisa bergerak ke arah kanan, kiri, atas, dan bawah. Benda dimensi dua juga sering disebut dengan bangun datar karena berciri memiliki luas dan keliling. Contohnya seperti persegi panjang, persegi, dan segitiga.

3. DIMENSI TIGA

Dimensi tiga adalah dimensi yang memiliki tiga unsur panjang, lebar, serta tinggi. Benda-benda dimensi tigas dapat bergerak ke kanan, kiri, atas, bawah, depan, dan belakang. Dimensi tiga disebut juga dengan bangun ruang. Salah satu ciri dimensi tiga adalah dapat diisi benda tertentu karena memiliki volume. Contohnya seperti kubus, tabung, mobil, dan rumah.

4. DIMENSI EMPAT

Hingga saat ini, pengertian dimensi empat masih banyak diperdebatkan. Sebagian ahli mengatakan bahwa dimensi empat sangat berkaitan dengan masalah waktu. Jadi, bisa dibilang jika dimensi empat dapat diartikan sebagai dimensi tiga yang sudah dilengkapi dengan dimensi waktu.


UNSUR RUPA

Berdasarkan dimensinya, karya seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi memiliki unsur yang membentuk kesatuan sehingga mempunyai nilai estetika. Unsur-unsur yang membentuk adalah bidang, garis, titik, tekstur, ruang, dan bentuk. Berikut rinciannya:

1. BIDANG

Unsur ini terbentuk dari beberapa garis yang menjadi satu kesatuan. Bidang mempunyai dimensi panjang dan lebar. Adapun beberapa jenis bidang di antaranya bidang geometris, bidang simetris, bidang organis, dan lainnya.

2. GARIS

Garis dapat terbentuk dari gabungan beberapa titik. Garis biasanya berbentuk memanjang dengan arah tertentu. Unsur ini memiliki beberapa sifat seperti pendek, panjang, vertikal, horizontal, tebal, dan tipis.

3. TITIK

Titik adalah unsur seni rupa yang paling dasar dan sederhana. Dari titik, kita bisa membuat sebuah garis atau bidang.

4. TEKSTUR

Tekstur adalah sifat permukaan sebuah benda. Sifatnya bisa kasar, halus, lembut, licin, mengkilap, dan berpori. Berdasarkan dari jenisnya tekstur terbagi menjadi dua jenis, yaitu tekstur nyata dan tekstur semu. Tekstur nyata mempunyai kesesuaian kandungan dari apa yang ditangkap oleh indera mata dan indera peraba, sedangkan tekstur semu sebaliknya.

5. BENTUK

Bentuk dibedakan menjadi dua jenis, yaitu bangun dan plastis. Bangun mempunyai bentuk yang polos sedangkan plastis memiliki nilai dan maknanya. Contoh bentuk plastis ialah lemari baju yang memiliki kegunaan untuk meletakkan pakaian.

6. RUANG

Unsur seni rupa ini dapat dimanipulasi berdasarkan bagaimana seorang seniman menempatkan garis, bentuk, bidang, dan warna. Ruang mengacu pada jarak atau area di sekitar, di antara, dan di dalam komponen sebuah karya. Ruang bisa positif atau negatif, terbuka atau tertutup, dangkal atau dalam, dan dua dimensi atau tiga dimensi. Terkadang ruang tidak disajikan secara eksplisit dalam sebuah karya, tetapi ilusi darinya. Ruang dalam unsur seni rupa memberikan referensi kepada penonton untuk menafsirkan sebuah karya seni.



PRINSIP SENI RUPA

Prinsip seni rupa adalah cara penyusunan dan pengaturan unsur-unsur seni rupa sehingga membentuk suatu karya seni. Inilah beberapa prinsip seni rupa yang bisa kamu terapkan dalam membuat karya atau menilai karya.

1. KESATUAN

Prinsip inilah yang menunjang bagaimana unsur-unsur dalam seni rupa saling berpadu satu sama lain sehingga saling menunjang dalam membangun sebuah komposisi yang menarik dan indah. Kesatuan menjadikan sebuah karya seni memiliki nilai estetis.

2. KESELARASAN

Kesatuan dari unsur-unsur karya seni rupa akan indah dan memiliki nilai estetis jika kesatuan tersebut berpadu dengan selaras (harmony). Keselarasan adalah kaitan kedekatan unsur-unsur yang berbeda baik bentuk, pencahayaan, warna dalam menciptakan keindahan.

3. PENEKANAN

Contrast adalah prinsip seni rupa yang memberikan kesan adanya perbedaan dari dua unsur yang berlawanan tapi saling berdekatan. Penekanan akan membuat sebuah karya seni terlihat tidak monoton. Dengan memberikan perbedaan yang mencolok pada bentuk, warna, dan ukuran sebuah karya seni akan terlihat lebih menarik. Contohnya bisa kamu perhatikan dalam fotografi hitam putih. Karena enggak ada warna, fotografer cenderung menggunakan kontras agar fotonya terlihat menarik.

4. IRAMA

Irama (rythm) merupakan prinsip yang mendasari pengulangan satu atau lebih unsur secara teratur. Unsur-unsur seni rupa bisa berupa garis, bentuk, atau variasi warna yang berulang secara harmonis sehingga meningkatkan nilai estetika karya seni.

5. GRADASI

Prinsip gradasi adalah susunan warna berdasarkan tingkatan tertentu pada sebuah karya seni. Gradasi paling sering kita terapkan dalam pembuatan mozaik, karikatur, lukisan, dan karya seni rupa lainnya. Prinsip ini membuat karya menjadi lebih hidup. Bayangkan jika kamu menggambar langit hanya dengan satu warna. Padahal, dalam dunia nyata langit terlihat bergradasi antara biru gelap dan biru terang.

6. KESEBANDINGAN

Kesebandingan (proportion) adalah prinsip yang mengacu pada keteraturan dan penyesuaian dari wujud karya seni rupa. Contohnya, dalam menggambar manusia, pelukis harus menyesuaikan ukuran kepala dengan badan, kecuali jika ia mencoba menggambar karikatur.

7. KOMPOSISI

Prinsip yang satu ini adalah organisasi dari unsur-unsur yang tersusun menjadi teratur, serasi, dan menarik. Komposisi adalah tata susunan yang menyangkut keseimbangan, kesatuan, irama, dan keselarasan dalam suatu karya seni rupa. 

8. KESEIMBANGAN

Keseimbangan (balance) adalah prinsip yang bertanggungjawab pada kesan dari suatu susunan unsur-unsur seni rupa. Unsur-unsur ini diatur sedemikian rupa melalui keseimbangan akan menjadi daya tarik bagi para penikmat karya seni.



Most Recent